Input Apa Saja yang Diperlukan untuk Multiple Position Sizing?

Pelajari input apa saja yang diperlukan: mekanisme, perbedaan, keterbatasan, dan pemeriksaan praktis.

Input Apa Saja yang Diperlukan untuk Multiple Position Sizing?

Jawaban langsung

Multiple position sizing adalah menentukan ukuran lebih dari satu posisi menggunakan input yang menghubungkan: (1) total kapasitas risiko yang tersedia, (2) risiko yang ingin Anda gunakan, (3) cara Anda mengalokasikan risiko tersebut ke seluruh posisi, dan (4) mekanisme trading yang mengubah “risiko” menjadi ukuran posisi. Input yang diperlukan terbagi dalam empat kelompok: konteks akun, input aturan risiko, input jarak harga dan biaya per posisi, serta input batasan (limit yang dapat menggagalkan perhitungan).

Mekanisme dan definisi: apa yang dimaksud dengan “input”

Dalam konteks ini, “input” adalah variabel apa pun yang digunakan metode sizing Anda untuk menghitung ukuran order (misalnya, lot/unit) untuk setiap posisi. Pendekatan multiple position harus mencakup mekanisme yang stabil dan kondisi yang bervariasi. Mekanisme yang stabil adalah hal-hal yang Anda tetapkan sekali (seperti anggaran risiko total dan cara Anda mengalokasikannya). Kondisi yang bervariasi adalah hal-hal yang dapat berbeda antar pasar atau penyedia (seperti jarak stop loss yang Anda rencanakan dan biaya transaksi).

1) Konteks akun dan instrumen

Anda memerlukan mata uang akun dan metode konversi, karena perhitungan risiko sering dinyatakan dalam istilah akun. Jika stop loss dan entry Anda dikutip dalam mata uang yang berbeda, Anda harus mengasumsikan kurs konversi atau menunjukkan logika konversi yang akan Anda gunakan.

Anda juga memerlukan detail kontrak instrumen yang relevan dengan metode sizing Anda (misalnya, bagaimana pergerakan harga diterjemahkan menjadi profit/loss per unit). Tanpa aturan konversi tersebut, “risiko per posisi” tidak dapat diubah menjadi ukuran posisi.

2) Aturan total risiko (input “kapasitas risiko”)

Anda harus menentukan anggaran risiko total yang Anda alokasikan untuk kumpulan posisi (sering dinyatakan sebagai persentase dari ekuitas akun atau jumlah mata uang tetap). Anda juga memerlukan dasar untuk persentase tersebut (umumnya ekuitas versus saldo), karena persentase yang sama menghasilkan jumlah yang berbeda ketika komponen akun berbeda.

Asumsi yang perlu dinyatakan secara eksplisit: apakah anggaran risiko tersebut untuk kumpulan posisi dalam periode waktu yang sama, atau untuk kejadian yang independen.

3) Alokasi risiko per posisi

Anda memerlukan aturan yang mengalokasikan anggaran risiko total ke seluruh posisi. Input di sini meliputi:

  • Jumlah posisi dalam kumpulan.
  • Bobot alokasi (risiko yang sama per posisi, risiko yang diskalakan berdasarkan relevansi, atau pembobotan lain yang ditentukan).
  • Apakah alokasi berubah ketika satu posisi keluar lebih awal dari posisi lainnya.

Asumsi yang perlu dinyatakan secara eksplisit: apakah alokasi diputuskan sebelum eksekusi apa pun terjadi (alokasi statis) atau dapat diperbarui secara dinamis.

4) Input jarak harga dan stop loss

Sizing bergantung pada seberapa jauh harga dapat bergerak melawan posisi Anda dalam skenario Anda. Minimal, Anda memerlukan harga entry yang direncanakan dan level stop loss yang direncanakan untuk setiap posisi. Dari sini, Anda menurunkan jarak stop loss.

Keterbatasan penting: jarak stop loss adalah sebuah asumsi. Eksekusi nyata dapat berbeda dari level yang direncanakan karena spread, slippage, atau penanganan order.

5) Input biaya transaksi yang memengaruhi risiko efektif

Untuk membuat “risiko” menjadi realistis, Anda memerlukan asumsi biaya per posisi, seperti:

  • Spread atau perbedaan bid/ask yang diharapkan saat entry dan exit.
  • Komisi atau biaya apa pun yang dikenakan per unit.
  • Jika berlaku, biaya funding atau overnight yang dapat memengaruhi selama posisi ditahan.

Karena biaya dapat berubah, perlakukan ini sebagai input skenario. Jika Anda mengabaikannya, ukuran yang dihitung mungkin tidak sesuai dengan drawdown efektif Anda.

6) Input batasan (titik kegagalan)

Bahkan dengan perhitungan yang konsisten, multiple position sizing dapat gagal karena batasan. Anda harus menyertakan input untuk:

  • Batasan margin atau leverage (dapatkah Anda membuka semua posisi dengan ukuran yang dihitung?).
  • Limit eksposur yang Anda tetapkan (misalnya, limit per instrumen, atau limit pada eksposur yang berkorelasi).
  • Batasan platform seperti ukuran trading minimum dan ukuran langkah (step size).

Bukti atau contoh (dengan asumsi yang dinyatakan)

Pertimbangkan dua posisi yang berbagi satu anggaran risiko total. Input:

  • Anggaran risiko total: 1 unit mata uang akun (asumsikan ini adalah kerugian maksimum yang ingin Anda tanggung di kedua posisi dalam skenario tersebut).
  • Bobot alokasi: 50/50, sehingga setiap posisi menerima risiko 0,5 unit mata uang.
  • Untuk setiap posisi, Anda mengasumsikan harga entry dan level stop loss, yang menghasilkan jarak stop loss yang direncanakan.
  • Anda mengasumsikan biaya transaksi per posisi (misalnya, komponen spread yang diharapkan dan model komisi) sehingga Anda dapat menyesuaikan risiko efektif.
  • Anda mengasumsikan konversi kontrak dari pergerakan harga menjadi profit/loss dalam mata uang akun.
Perdagangan forex dan CFD memiliki risiko besar. Informasi FoxiForex bersifat edukatif dan bukan nasihat keuangan pribadi. Penempatan bersponsor diberi label dengan jelas.