Apa Itu Contoh Perhitungan R Kuadrat?

Jelajahi apa itu contoh perhitungan: mekanisme, perbedaan, keterbatasan, dan pemeriksaan praktis.

Apa Itu Contoh Perhitungan R Kuadrat?

Jawaban langsung

Contoh perhitungan R kuadrat (R²) dimulai dengan kumpulan data kecil, menghitung nilai prediksi model, lalu membandingkan dua kuantitas: (1) variasi yang dijelaskan oleh model dan (2) total variasi dalam hasil yang diamati. R² adalah rasio variasi yang dijelaskan terhadap total variasi, didefinisikan sebagai

R² = 1 − (SSres / SStot)

di mana SSres adalah jumlah kuadrat residual dan SStot adalah jumlah kuadrat total di sekitar rata-rata.

Di bawah ini adalah contoh numerik lengkap. Ini tidak mengasumsikan data pasar langsung apa pun.

Mekanisme atau definisi

Untuk membuat perhitungan menjadi eksplisit, definisikan variabel dependen y (nilai yang diamati) dan serangkaian prediksi model ŷ untuk titik waktu yang sama.

  1. Hitung rata-rata dari nilai yang diamati: ȳ = rata-rata(y).
  2. Hitung jumlah kuadrat total (SStot): SStot = Σ(yi − ȳ)²
  3. Hitung residual dan jumlah kuadrat residual (SSres): SSres = Σ(yi − ŷi)²
  4. Ubah menjadi R²: R² = 1 − SSres / SStot

Interpretasi dalam istilah sederhana: R² meningkat ketika prediksi model tetap dekat dengan nilai yang diamati (residual kecil) relatif terhadap seberapa jauh observasi bervariasi di sekitar rata-ratanya (total variasi besar).

Bukti atau contoh

Asumsikan kita memiliki 4 hasil yang diamati y dan serangkaian prediksi sederhana ŷ yang dihasilkan oleh suatu model.

Misalkan:

  • y = [2, 0, 4, 6]
  • ŷ = [2, 1, 3, 5]

Asumsi:

  • Prediksi ŷ sesuai dengan empat kasus yang sama dengan y.
  • Kita menggunakan definisi standar varians yang dijelaskan dari R².
  • Tidak ada biaya, efek eksekusi, atau perilaku masa depan yang disertakan; ini murni ringkasan aritmetika dari kecocokan untuk empat titik ini.

Langkah 1: Rata-rata dari y ȳ = (2 + 0 + 4 + 6) / 4 = 12/4 = 3

Langkah 2: Jumlah kuadrat total (SStot)

  • (2 − 3)² = 1
  • (0 − 3)² = 9
  • (4 − 3)² = 1
  • (6 − 3)² = 9 Jadi SStot = 1 + 9 + 1 + 9 = 20

Langkah 3: Residual dan SSres Residual (yi − ŷi):

  • 2 − 2 = 0 → kuadrat: 0
  • 0 − 1 = −1 → kuadrat: 1
  • 4 − 3 = 1 → kuadrat: 1
  • 6 − 5 = 1 → kuadrat: 1 Jadi SSres = 0 + 1 + 1 + 1 = 3

Langkah 4: Hitung R² R² = 1 − SSres / SStot = 1 − 3/20 = 17/20 = 0.85

Hasil: Untuk kumpulan data dan prediksi ini, R² = 0.85. Itu berarti kesalahan residual jauh lebih kecil daripada variabilitas y di sekitar rata-ratanya.

Keterbatasan dan risiko

  1. R² bukan kausalitas. R² yang tinggi dapat terjadi bahkan jika model menangkap pola tanpa menjelaskan mengapa pola tersebut terjadi.
  2. R² bergantung pada y yang dipilih dan bagaimana ŷ dihasilkan. Jika Anda mengubah bentuk model, data pelatihan, atau prapemrosesan, R² dapat berubah.
  3. Risiko overfitting: Sebuah model dapat mencocokkan titik-titik historis dengan erat (R² tinggi dalam sampel) namun menggeneralisasi dengan buruk. Hubungan historis tidak menetapkan hasil masa depan.
  4. Sensitivitas kumpulan data: Jika SStot kecil (nilai y mengelompok di dekat rata-ratanya), R² dapat menjadi tidak stabil atau menyesatkan.
  5. Mode kegagalan dengan data di luar sampel: R² yang dihitung pada data baru bisa jauh lebih rendah daripada nilai dalam sampel karena residual biasanya meningkat ketika hubungan berubah.

Verifikasi atau pertanyaan berikutnya

Anda dapat memverifikasi secara independen nilai R² apa pun dengan menghitung ulang tiga bahan: ȳ, SStot, dan SSres menggunakan y yang diamati sama dan ŷ yang diprediksi sama. Jika Anda ingin melangkah lebih jauh, pertanyaan berikutnya yang berguna adalah bagaimana R² berperilaku ketika prediksi berasal dari jendela yang berbeda, penskalaan yang berbeda, atau pilihan model yang berbeda—terutama ketika hubungan tidak stabil dari waktu ke waktu.

Perdagangan forex dan CFD memiliki risiko besar. Informasi FoxiForex bersifat edukatif dan bukan nasihat keuangan pribadi. Penempatan bersponsor diberi label dengan jelas.